BAB II
PEMBAHASAN
- Hakikat
Belajar dan Asas-asas Belajar
Belajar merupakan aktivitas yang disengaja dan dilakukan
oleh individu agar terjadi perubahan kemampuan diri , dengan belajar anak yang
tadinya tidak mampu melakukan sesuatu, menjadi mampu melakukan sesuatu, atau
anak yang tadinya tidak mampu melakukan sesuatu, menjadi mampu melakukan
sesuatu, atau anak yang tadinya tidak terampil menjadi terampil. Contoh lain,
sebut saja Maharani, yang tadinya tidak dapat berjalan menjadi dapat berjalan adalah
karena Maharani sudah belajar berjalan, begitu juga individu menjadi pintar
bila rajin belajar memahami ilmu tersebut. (Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan
Pembelajaran, 2013:124)
Menurut Gagne (1984), dalam buku Tim
Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, 2013:124), belajar adalah suatu
proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.
Dari pengertian tersebut terdapat tiga unsur pokok dalam belajar, yaitu : (1)
proses, (2) perubahan perilaku, dan (3) pengalaman.
- Proses
Belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berpikir
dan merasakan. Seorang dikatakan belajar apabila pikiran dan perasaannya aktif.
Aktivitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diamati yaitu orang
lain, akan tetapi dirasakan oleh yang bersangkutan sendiri. Gurutidak dapat
melihat aktivitas pikiran dan perasaan siswa. Guru melihat dari kegiatan siswa
sebagai akibat adanya aktivitas pikiran dan perasaan siswa, sebagai contoh:
siswa bertanya, menanggapi, menjawab pertanyaan guru, diskusi, memecahkan
permasalahan, melaporkan hasil kerja, membuat rangkuman, dan sebagainya. Itu
semua adalah gejala yang tampak dari aktivitas mental dan emosional. (Tim Pengembangan
MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, 2013:125)
Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan manifestasi dari adanya
aktivitas mental (berpikir dan merasakan).Bagaimana bila siswa hanya duduk saja
pada saat guru menjelaskan pelajaran?Apakah dapat dikategorikan sebagai
belajar?Jawabnya adalah, apabila siswa tersebut duduk sambil menyimak penjelasan
guru, maka dikategorikan sebagai belajar. Tetapi apabila siswa hanya duduk
sambil pikiran dan perasaannya
melayang-layang atau melamun diluar pelajaran yang dijelaskan guru, maka siswa
tersebut tidak sedang belajar, tetapi sedang melamun. Tetapi perlu dicatat,
bahwa belajar tidak hanya mendengarkan penjelasan guru saja (tidak harus ada
yang mengajar), karena belajar dapat dilakukan siswa dengan berbagai macam cara
dan kegiatan, asal terjadi interaksi antara individu dengan lingkungannya. Misalnya
dengan mengamati demonstrasi guru, mencoba sendiri, mendiskusikan dengan teman,
melakukan eksperimen, memecahkan persoalan, mengerjakan soal, membaca sendiri,
dan sebagainya. Belajar hendaknya melakukan aktivitas mental pada kadar yang
tinggi. Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang
dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat.
Menurut (Arief Sadiman, 1986:1) dalam buku Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan
Pembelajaran (2013:125).
Hasil belajar akan tampak pada perubahan perilaku individu
yang belajar. Seseorang yang belajar akan mengalami perubahan perilaku sebagai
akibat kegiatan belajarnya. Pengetahuan dan keterampilannya bertambah, dan
penguasaan nilai-nilai dan sikapnya bertambah pula.
Menurut para ahli psikologi tidak
semua perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Perubahan peilaku karena faktor
kematangan, karena lupa, karena minum-minuman
keras bukan termasuk sebagai hasil belajar, karena bukan perubahan dari hasil
pengalaman (berinteraksi dengan lingkungan), dan tidak terjadi proses mental
emosional dalam beraktivitas.
Perubahan perilaku sebagai hasil
belajar diklasifikasikan menjadi tiga domain yaitu: Kognitif, Afektif,
Psikomotorik. Domain kognitif meliputi perilaku daya cipta, yaitu berkaitan
dengan kemampuan intelektual manusia, anatar lain: kemampuan mengingat
(knowledge), memahami (comprehension), menerapkan (application), menganalisis
(analysis), mensintesis (synthesis), dan mengevaluasi (evalution). Domain
afektif berkaitan dengan perilaku daya rasa atau emosional manusia, yaitu
kemampuan menguasai nilai-nilai yang dapat membentuk sikap seseorang. Domain
psikomotorik berkaitan dengan perilaku dalam bentuk keterampilan-keterampilan
motorik ( gerakan fisik).
Pada pembelajaran perubahan perilaku
sebagai hasil belajar yang ingin dicapai ini dapat dirumuskan dalam bentuk
tujuan pembelajaran atau rumusan kompetensi yang ingin dicapai dengan segala
indikatornya. Contoh rumusan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang akan
dicapai dalam pembelajaran : “Siswa dapat mengubah pecahan biasa kedalam bentuk
pecahan decimal dan mengurutkannya” Kata dapat
mengubah merupakan perilaku hasil belajar yang akan dicapai dalam
pembelajaran. (Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, 2013:126)
Belajar adalah mengalami, dalam arti bahwa belajar terjadi
karena individu berintekrasi dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun
lingkungan sosial.Lingkungan fisik adalah lingkungan di sekitar individu baik
dalam bentuk alam sekitar (natural) maupun dalam bentuk hasil ciptaan manusia
(cultural).(Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, 2013:126)
Macam-macam lingkungan fisik yang bersifat natural antara
lain pantai, hutan, sungai, udara, air, dan sebagainya. Bersifat cultural
adalah buku, media pembelajaran, gedung sekolah, perabot sekolah, dan
sebagainya.Adapun lingkungan social siswa di antaranya guru, orang tua,
pustakawan, pemuka masyarakat, kepala sekolah, dan sebagainya.Lingkungan
pembelajaran yang baik ialah lingkungan yang merangsang dan menantang siswa
untuk belajar.Guru yang mengajar tanpa menggunakan alat peraga tentu kurang
merangsang atau menantang siswa untuk belajar.apalagi bagi siswa SD yang
pengembangangan intelektual masih membutuhkan alat peraga. Semua lingkungan
yang diperlukan siswa ini di desain secara integral agar menjadi bahan belajar
dan pembelajaran yang efektif.
Belajar dapat dilakukan melalui pengalaman langsung maupun
pengalaman tidak langsung.Siswa yang melakukan eksperimen adalah contoh belajar
dengan pengalaman langsung.Sedangkan siswa belajar dengan mendengarkan
penjelasan guru atau membaca buku adalah contoh belajar melalui pengalaman
tidak langsung.
Belajar pada hakikatnya adalah proses intekrasi terhadap
semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai
proses yang di arahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai
pengalaman. Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati dan memahami
sesuatu (Sudjana, 1989:28). Sejalan dengan konsep di atas. Cronbach
(Surya,1979:28) dalam buku Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran,
2013:127) menyatakan, “learning may be
defined as the process by which a relatively enduring change in behavior occurs
as a result of exprince or practice”. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa
indikator belajar di tentukan oleh perubahan dalam tingkah laku yang bersifat
permanen sebagai hasil dari pengalaman atau latihan.
Dari beberapa kutipan di atas dapat di simpulkan beberapa
hal yang menyangkut pengertian belajar sebagai berikut:
- Belajar merupakan sesuatu proses
yaitu kegiatan yang berkesinambungan yang dimulai sejak lahir dan terus
berlangsung seumur hidup.
- Dalam belajar terjadi adanya
perubahan tingkah laku yang bersifat relatif permanen.
- Hasil belajar di tunjukkan dengan
aktivitas-aktivitas tingkah laku secara keseluruhan.
- Adanya peranan kepribadian dalam
proses belajar antara lain aspek motivasi, emosional, sikap dan sebagainya.
Terjadinya proses belajar dapat di pandang dari sisi
kognitif, sebagaimana dikemukakan Bigge (1982) dalam buku Tim Pengembangan MKDP
Kurikulum dan Pembelajaran, 2013:127), yaitu berhubungan dengan adanya
perubahan-perubahan tentang kekuatan variabel-variabel hipotesis,
kekuatan-kekuatan, asosiasi, hubungan-hubungan dan kebiasaan, atau kecendrungan
perilaku. Dalam hubungan ini Crow dan Crow (Surya, 1979:32) dalam buku Tim
Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran (2013:127) menyatakan bahwa
“proses belajar terjadi apabila individu dihadapkan pada situasi dimana ia
tidak dapat menyesuaikan diri dengan cara biasa, atau apabila ia harus
mengatasi rintangan-rintangan yang menganggu kegiatan yang diinginkan. Proses
penyesuaian diri mengatasi rintangan terjadi secara tidak sadar, tanpa
pemikiran yang banyak terhadap apa yang dilakukan. Dalam hal ini pelajar
mencoba melakukan kebiasaan atau tingkah laku yang telah terbentuk hingga ia
mencapai respon yang memuaskan.
Belajar merupakan suatu proses interaksi antara berbagai
unsur yang berkaitan. Unsur utama dalam belajar adalah individu sebagai peserta
belajar, kebutuhan sebagai sumber pendorong, situasi belajar, yang memberikan
kemungkinan terjadinya kegiatan belajar.Dengan demikian, manifestasi belajar
atau perbuatan belajar dinyatakan dalam bentuk perubahan tingkah laku. Mengenai
jenis perubahan tingkah laku dalam proses belajar ini, Gagne dan Briggs
(1988:105) dalam buku Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran
(2013:128) menyatakan bahwa perbuatan hasil belajar menghasilkan perubahan
dalam bentuk tingkah laku dalam aspek: a. kemampuan membedakan, b. konsep
konkret, c. konsep terdefenisi, d. nilai, e. nilai atau aturan tingkat tinggi,
f. strategi kognitif, g. informasi verbal, h. sikap, dan i. keterampilan
motorik.
- Tujuan
Belajar
tujuan
adalah perangkat hasil yang hendak dicapai setelah siswa melakukan kegiatan
belajar. Tujuan yang disadari oleh siswa sendiri sangat bermakna dalam upaya
meggerakkan kegiatan belajar untuk mencapai hasil yang optimal.
Sehubungan
dengan deskripsi tugas yang menjelaskan apa yang merek harus lakukan, juga
perlu dipertunjukkan/diberitahukan tujuan yang hendak dicapai oleh siswa,
setelah pembelajaran tersebut dilaksanakan. Hal ini perlu agar para siswa mengetahui
tujuan dari pada kegiatan itu.Misalnya mengapa penting dan bagaimana tujuan itu
dapat membantu mereka. Para siswa akan melakukan kegiatan dan berperan serta
lebih baik. Untuk itu guru perlu membangun dalam diri siswa predisposisi yang
dapat menambahkan inklinasi belajar.
Asas
ini paling efektif apabila diterapkan pada permulaan urutan pembelajaran. Cara
pemberitshusnnys tujuan kepada siswa memang juga krusihe teacher must be
sincere and convicting in making introductory remarks about the purposes of the
activity (Kourilsky, 1987,h.15). jika mungkin, hubungkan kegiatan dengan
pribadi siswa, dan jelaskan bagaimana kegiatan itu berpengaruh positif terhadap
mereka perolehan bila mereka berpatisipasi dalam pembelajaran itu.
Upaya
yang mungkin dilakukan untuk mengarahkan perhatian siswa kepada tujuan
pelajaran, antara lain sebagai berikut:
- Bagi siswa yang berada pada tingkat
lanjutan dapat diberikan suatu tes nyata, lalu individu menerima umpan balikan,
serta bantuan mengerjakan tes, dan melaksanakan diskusi kelompok kecil. Dengan
cara ini diharapkan siswa lebih siap berpatisipasi secara aktif dalam pelajaran
tersebut.
- Bagi siswa tingkat SD, barangkali lebih
efektif jika menggunakan situasi kehidupan nyata berdasarkan pengalaman siswa
sendiri atau dari contoh media yang kemudian didiskusikan sehingga mereka lebih
terarah pada pelajaran karena merasa jelas nilai pelajaran itu bagi mereka.
- Mempertunjukkan nilai pelajaran itu bagi
pribadi dan intelektual siswa, misalnya meningkatkan keterampilan berpikir kritis,
memperbaiki cara berkomunikasi, sehingga mereka lihat pentingnya pelajaran itu
dan melakukan kegiatan sebagaimana mestinya.
Motivasi
sering tumpang tindih dengan asas-asas belajar lainnya, namun demikian kita
perlu mengenal konsep pokok (key concept) dari pada motivasi kelas ini sebagai
suatu asa belajar tersendiri.
Tafsiran
tentang motivasi menurut pandangan lama, sering dianggap sama artinya dengan
perhatian. Misalnya guru berupaya menarik perhatian siswa terhadap pokok yang
diajarkan dengan cara tertentu, sehingga siswa tertarik minatnya untuk
mempelajari bahan yang baru tersebut. Tumbuhnya perhatian dan minat siswa
belajar dianggap telah tumbuhnya motivasi belajar siswa bersangkutan.
Motivasi
dapat bersumber dari dalam diri siswa sendiri berdasarkan kebutuhan, dorongan
dan kesadaran pada tujuan belajar.Motivasi ini disebut motivasi
intrinsic.Motivasi belajar dapat juga tumbuh berkat rangsangan dan tekanan atau
desakan dari luar, misalnya dengan hadiah, ganjaran, hukuman dan pemberian
harapan lainnya, yang disebut motivasi ekstrinsik. Kedua jenis motivasi ini
berdayaguna dalam melakukan proses belajar, kendatipun motivasi yang bersumber
dari diri sendiri dinilai lebih baik.
Kendatipun
demikian, motivasi ekstrinsik perlu digerakkan dan digunakan untuk mendorong
kegiatan belajar siswa, dengan cara menciptakan kondisi-kindisi yang
relevan.
Kondisi- kondisi kelas berikut ini dapat
meningkatkan motivasi didalam kelas : suasana lingkungan kelas, keterlibatan
siswa secara langsung, mendorong keberhasilan, transfer dan retensi.
- Suasana
Lingkungan Kelas
Pada
umumnya, siswa memberikan respons dan berperilaku baik jika guru bersifat
menunjang dan membantu selama berlangsungnya pembelajaran.Motivasi siswa di
pengaruhi secara positif oleh guru yang bersemangat dan antusias terhadap
isi/materi yang diajarkannya.Guru juga perlu memberikan umpan balik yang
positif sepanjang berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.Untuk itu, guru
perlu menciptakan suasana lingkungan kelas yang menyenangkan (comportable) dan
menunjang (supportive), sehingga membangkitkan motivasi siswa untuk mencapai
hasil belajar yang positif.
- Keterlibatan
Langsung Siswa
Jika
mata ajaran dalam kelas dihubungkan dengan kehidupan pribadi siswa dan
minatnya, maka proses belajar biasanya lebih melibatkan dan memotivasi siswa.
Karena itu guru hendaknya memilih topic pelajaran yang populer bagi para siswa,
agar mereka secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar.Karena itu guru
perlu sewaktu- waktu mengubah pelajaran yang diberikannya untuk
mengakomodasikan minat dan daerah keterlibatan pribadi siswa.
Umumnya
siswa akan memberikan respons yang positif bila mereka mengalami keberhasilan.
Memang kadang- kadang ada siswa yang justru bekerja keras setelah mengalami
kegagalan, namun umumnya motivasi belajar lebih meningkat berkat tumbuhnya
keberhasilan.Karena itu, guru hendaknya berupaya sebanyak mungkin memberikan
kesempatan berhasil kepada siswa sepanjang urutan belajar.Untuk itu, guru
dituntut memberikan penguatan ekstra (extra
rainforcement) dan bimbingan, agar siswa mau belajar lebih keras dengan
penuh perhatian melaksanakan tugas- tugas belajarnya.
- Umpan balik hasil belajar
Asas
pengetahuan tentang hasil kadang-kadang disebut “umpan balik pembelajaran”,
yang menunjukkan pada sambutan yang cepat dan tepat terhadap siswa agar mereka
mengetahui bagaimana mereka sedang bekerja.Lebih cepat siswa mendapat informasi
balikan tentunya lebih baik, sehingga informasi salah segera diperbaiki melalui
kegiatan belajar berikutnya. Guru dapat memberikan umpan balik ini dengan
berbagai cara, seperti: mengajukan pertanyaan dan memberikan jawaban silih
berganti, antara guru dan para siswa, pertukaran dan mengoreksi
karangan-karangan didalam kelas, memeriksa karangan oleh seorang volunteer
kelas, atau mengecek atau mengomentari langsung ditempat (on the spot) oleh guru sambil berkeliling dalam kelas. Nada bahasa
atau ucapan guru mengkomunikasikan pengetahuan tentang hasil yang dicapai oleh
siswa juga sangat penting. Semakin keterbukaan terhadap pertanyaan-pertanyaan
dan suasan ajakan dan dukungan akan mendorong siswa untuk mencari sendiri umpan
balik. Bila prinsip ini dilaksanakan secara konsisten dan terus menerus maka
dapat memperbaiki presentasi belajar siswa serta sikap mereka.
Beberapa contoh pelaksanaan asas pengetahuan
tentang hasil didalam kelas, antara lain:
- Kelompok
baca, para siswa membaca sebuah cerita dalam hati. Kemudian siswa menceritakan
kembali bagian-bagian penting dari cerita itu secara berurutan, sedangkan
lainnya mendengarkan dan melakukan koreksi, ini dilakukan secara bergiliran.
- Guru
menjelaskan hasil-hasil tes bentuk essai kepada kelas, dengan
mengklasifikasikannya menjadi kelompok baik, sedang, dan kurang, kemudian
mendiskusikannya dengan para siswa pada hari berikutnya.
Hasil
belajar dalam kelas harus dapat dilaksanakan kedalam situasi-situasi diluar
sekolah. Dengan kata lain, murid dapat mentransferkan hasil belajar itu kedalam
situasi-situasi sesungguhnya didalam masyarakat.Tentang transfer hasil belajar,
kita setidak-tidaknya akan menemukan tiga teori, yaitu:
- Teori disiplin formal (The formal
discipline theory)
Teori ini menyatakan,
bahwa sikap, pertimbangan, ingatan, imajinasi, dan sebagainya dapat diperkuat
melalui latihan-latihan akademis. Mata pelajaran-mata pelajaran seperti
geometri, bahasa latin sangat penting dalam melatih daya pikir seseorang.
Demikian pula halnya dengan daya pikir kritis, ingatan, pengalaman, pengamatan,
dan sebagainya dapat dikembangkan melalui latihan-latihan akademis.
- Teori unsur-unsur yang identik (The
identical elements theory)
Transfer terjadi
apabila diantara dua situasi atau dua kegiatan terdapat unsur-unsur yang
bersamaan (identik). Latihan didalam satu situasi mempengaruhi perbuatan
tingkah lakun dalam situasi yang lainnya. Teori ini banyak digunakan dalam
kursus latihan jabatan, dimana kepada siswa diberikan respons-respons yang
diharapkan diterapkan dalam situasi
kehidupan yang sebenarnya. Para ahli psikologi, banyak menekankan kepada
persepsi para siswa terhadap unsur-unsur yang identik ini.
- Teori
generalisasi ( The generalization theory)
Teori ini merupakan
revisi terhadap teori unsur-unsur yang identic. Tetapi generalisasi menekankan
lepada kompleksitas dari apa yang dipelajari. Internalisasi daripada
pengertian-pengertian, keterampilan, sikap-sikap, dan apresiasi dapat
mempengaruhi kelakuan seseorang. Teori ini menekankan kepada pembentukan
pengertian (concept formation) yang dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman
lain. Transfer terjadi apabila siswa menguasai pengertian-pengertian umum untuk
kesimpulan-kesimpulan umum. (Kurikulum dan Pembelajaran 2014:89)
2. Hakikat Pembelajaran
Istilah
pembelajaran merupakan perkembangan dari istilah pengajaran, dan istilah
belajar-mengajar yang dapat kita perdebatkan atau kita abaikan saja yang
penting makna dari ketiganya.Pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan
oleh seseorang guru atau pendidik untuk membelajarkan siswa yang bealajar.Pada
pendidikan formal (sekolah), pembelajaran merupakan tugas yang dibebabankan
kepada guru, karena guru merupakan tenaga professional yang dipersiapkan untuk
itu.Pembelajaran di sekolah semakin berkembang, dari pengajaran yang bersifat
tradisional sampai pembelajaran dengan sistem modern.Kegiatan pembelajaran
bukan lagi sekedar kegiatan mengajar (pengajaran) yang mengabaikan kegiatan
belajar, yaitu sekedar menyiapkan pengajaran dan melaksanakan prosedur mengajar
dalam pembelajaran tatap muka.Akan tetapi, kegiatan pembelajaran lebih kompleks
lagi dan dilaksanakan dengan pola-pola pembelajaran yang bervariasi.(Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan
Pembelajaran, 2013:128)
Menurut Mudhofir (1987:30) dalam
buku Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan
Pembelajaran (2013:128) Pada garis besarnya ada empat pola
pembelajaran.Pertama, pola
pembelajaran guru dengan siswa tanpa menggunakan alat bantu/bahan pembelajaran
dalam bentuk alat peraga.Pola pembelajaran ini sangat tergantung pada kemampuan
guru dalam mengingat bahan pembelajaran dan menyampaikan bahan tersebut secara
lisan kepada siswa.Kedua, pola (guru
+ alat bantu) dengan siswa. Pada pola pembelajaran ini guru sudah dibantu oleh
berbagai bahan pembelajaran dalam menjelaskan dan meragakan suatu pesan yang
bersifat abstrak.Ketiga, pola (guru)
+ (media) dengan siswa.Pola pembelajaran ini sudah mempertimbangkan
keterbatasan guru, yang tidak mungkin menjadi satu-satunya sumber belajar. Guru
dapat memanfaatkan berbagai media pembelajaran sebagai sumber belajar yang
dapat menggantikan guru dalam pembelajaran. Jadi pola ini pola pembelajaran
bergantian antara guru dan media berinteraksi dengan siswa.Konsekuensi pola
pembelajaran ini adalah hrus disipkan bahan pembelajaran yang dapat digunakan
dalam pembelajaran.Dan keempat, pola
media dengan siswa atau pola pembelajaran jarak jauh menggunakan media atau
bahan pembelajaran yang disiapkan. Berdasarkan pola-poa pembelajaran tersebut
di atas, maka membelajarkan itu tidak hanya sekedar mengajar (seperti pol
satu), karena membelajarkan iu yang berhasil harus memberikan banyak perlakuan
kepada siswa. Peran guru dalam pembelajaran lebih dari sekedar sebgai pengajar
(informator) belaka, akan tetapi guru harus memiliki multi peran dalam
pembelajaran. Dan agar pola pembelajaran yang diterapkan juga dapat bervariasi,
maka bahan pembelajarannya harus dipersiapkan secara bervariasi juga.
Menurut Adams & Dickey (dalam
oemar hamalik,2005) dalam bukuTim
Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran (2013:129),
peran guru sesungguhnya sangat luas, meliputi:
- Guru
sebagai pengajar (teacher as instructor)
- Guru
sebagai pembimbing (teacher as counselor)
- Guru
sebagai ilmuwan (teacer as scientist)
- Guru
sebagai pribadi (teacher as person)
Bahkan
dalam arti luas, di mana sekolah berubah fungsi menjadi penghubung antara
ilmu/teknologi dengan masyarakat, dan sekolah lebih aktif ikut dalam
pembangunan, maka peran guru menjadi lebih luas. Dalam kaitannya dengan
aktivitas belajar sebagai proses mental dan emosional siswa dalam mencapai
kemajuan, maka guru hendaknya berperan dalam memfasilitasi agar terjadi proses
mental emosional siswa tersebut sehingga dapat dicapai kemajuan tersebut. Guru
harus berperan sebagai motor penggerak terjadinya aktivitas belajar dengan cara
memotivasi siswa (motivator), memfasilitasi belajar (fasilitator),
mengorganisasi kelas (organisator), mengembankan bahan pembelajaran (developer,
desainer), menilai program-proses-hasil pembelajara (evaluator), memonitor
aktivitas siswa (monitor), dan sebagainya.
Bila semua paradigma masyarakat Perguruan Tinggi telah
memahami dengan baiktentang proses pembelajaran siswa aktif, learniang how to learn, penyiapan sumber
daya telah diatur dengan baik, dan penyiapan konten yang sudah tersedia dengan
baik, dan RPP/SAP yang telah mengatur dengan baik mekanisme proses
pembelajaran, maka proses pembelajaran akan berjalan dengan lebih mudah. Proses
pembelajaran hanya menerapkan kemampuan dan menggunakan sarana serta mengikuti
mekanisme yang telah diatur dengan baik dalam RPP/SAP. Proses pembelajaran yang
telah direncanakan dengan baik akan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Selain menerapkan proses pembelajar telah ditata dengan baik, juga harus selalu
meminta feed back dan melakukan
kajian untuk terus membenahi proses pembelajaran. Proses pembelajaran dapat
melalui tatap muka di dalam ruang kelas dan dapat melalui media elektronik
sesuai dengan pengatur di dalam SAP. Proses pembelajaran melalui internet
mendorong mahasiswa lebih aktif dalam pembelajaran karena harus berkomunikasi
secara maya dengan para dosen, dan mahasiswa lain disamping mengembara di dalam
dunia pengetahuan lain.
Pembelajaran (instruction) merupakan akumulasi dari konsep mengajar (teaching) dan konsep belajar (learning).Penekanannya terletak pada
perpaduan antara keduanya, yakni kepada penumbuhan aktivitas subjek
didik.Konsep tersebut dapat dipandang sebagai suatu sistem, sehingga dalam sistem
belajar ini tersapat komponen – komponen siswa atau peserta didik, tujuan,
materi untuk mencapai tujuan, fasilitas dan prosedur serta alat atau media yang
harus dipersiapkan. Sebagaimana diungkapkan oleh Davis, (1974 : 30) dalam buku Tim
Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran (2013:133) bahwa learning system menyangkut
pengorganisasian darai perpaduan antara manusia, pengalaman belajar, fasilitas,
pemeliharaan atau pengontrolan, dan prosedur yang mengatur interaksi perilaku
pembelajaran untuk mencapai tujuan. Demikian juga halnya dengan teaching system, dimana komponen
perencanaan mengajar, bahan ajar, tujuan, materi, dan metode, serta penilaian
dan langkah mengajar akan berhubungan dengan aktivitas belajar untuk mencapai
tujuan. Kenyataan bahwa dalam proses pembelajaran terjadi pengorganisasian,
pengelolaan, dan transformasi informasi oleh dan dari gurukepada siswa. Ketiga
kategori kegiatan dalam proses pembelajaran ini berkaitan erat dengan aplikasi
dan konsep system informasi manajemen.
- Persiapan
(Preparation)
Tahap
persiapan berkaitan dengan mempersiapkan peserta belajar untuk belajar.Tanpa
itu, pembelajaran akan lambat dan bahkan dapat berhenti sama sekali. Namun
karena terlalu bersemangat untuk mendapat materi, tahap ini sering diabaikan,
sehingga mengganggu pembelajaran yang baik.Persiapan pembelajaran itu seperti
mempersiapkan tanah untuk ditanami benih.Jika dilakukan dengan benar, niscaya
menciptakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan yang sehat.Demikian juga dalam
pembelajaran jika persiapan matang sesuai dengan karakteristik kebutuhan,
materi, metode, pendekatan, lingkungan serta kemampuan guru, maka hasilnya
diasumsikan akan lebih optimal. Tahap ini penting mengingat bahwa untuk
mendekati situasi belajar, misalnya peserta belajar harus menghadapi segala
macam rintangan yang potensial dapat mengganggu.Seperti tidak merasakan adanya
manfaat, takut gagal, benci pada topik pelajaran, dipaksa hadir, merasa sudah
tahu, dan merasa bosan.Semua rintangan ini dan yang lainnya dapat menyebabkan
stress, beban otak dan kemerosotan dalam kemampuan belajar.
Berdasarkan
hal diatas, maka tujuan tahap pesiapan adalah untuk menimbulkan minat peserta
belajar, memberi mereka perasaan positif mengenai pengalaman belajar yang akan
datang dan menempatkannya dalam situasi optimal untuk belajar. Hal tersebut
dapat dilakukan dengan memberikan sugesti positif, memberikan pernyataan yang memberi
manfaat, memberikan tujuan yang jelas dan bermakna.Tahap ini juga bertujuan
membangkitkan rasa ingin tahu, menciptakan lingkungan fisik, emosional, social
yang positif.Menenangkan rasa takut, menyingkirkan hambatan belajar, banyak
bertanya dan mengemukakan berbagai masalah, merangsang rasa ingin tahu, dan
mengajak belajar penuh dari awal.Banyak orang yang mempunyai perasaaan negatif
tentang belajar.Kenangan tak sadar mereka mengaitkan belajar dengan rasa sakit,
terhina, terkurung, dan sebagainya. Jika mereka tidak menggantikan sugesti
negatif ini dengan yang positif, maka pembelajaran mereka akan terhalang. Hal
ini dikarenakan gambaran negatif semacam itu cenderung mewarnai pengalaman
dengan asumsi.
Asumsi
negatif cenderung menciptakan pengalaman negatif dan asumsi positif cenderung
menciptkan pengalaman positif.Sugesti tidak boleh berlebihan, menimbulkan kesan
bodoh, dangkal, tetapi harus realistik, jujur, dan tidak bertele – tele. Dalam
kejadian apa pun, jika sudah menetapkan hati untuk mencapai hasil positif,
kemungkinan besar hasil positif yang akan dicapai. Ketika asumsi negatif sudah
digantikan dengan yang positif, maka rasa gembira dan lega dapat mempercepat
pembelajaran mereka (Merton, 1986 : 235) dalam buku Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran
(2013:133).
Sugesti,
baik positif maupun negatif, akan tercipta oleh lingkungan belajar itu sendiri.
Pengaturan ruang kelas sering menimbulkan sugesti negatif. Jika lingkungan
fisik mengilhami perasaan negatif dan mengingatkan orang pada pengalaman yang
tidak manusiawi, maka lingkungan itu akan memberi pengaruh negatif pada
pembelajaran. Sehingga diperlukan alternatif lingkungan yang memberi kesan
gembira, positif dan membangkitkan semangat.Sebuah lingkungan yang menimbulkan
asosiasi positif dan berperasaan dalam setiap orang. Seperti dengan menata
tempat duduk secara dinamis, menghiasi ruang belajar, atau apa yang ada dalam
lingkungan belajar yang dapat menambah warna, keindahan, minat, serta
rangsangan belajar peserta didik. Termasuk dengan kehangatan musik, sebagaimana
banyak dilakukan dalam inovasi – inovasi pembelajaran modern saat ini.
Pembelajaran memerlukan gambaran yang jelas tentang tujuan suatu pelajaran dan
apa yang akan dapat mereka lakukan sebagai hasilnya. Hal ini dapat dijelasakan
dengan kata, gambar, contoh, demo atau apa saja yang dapat membuat tujuan itu
tampak nyata dan konkret bagi peserta belajar.
Ada
garis lurus antara tujuan dan manfaat, tetapi tujuan cenderung dikaitkan dengan
apa, sedangkan manfaat dikaitkan dengan “mengapa”. Peserta belajar dapat
belajar paling baik jika menreka tahu mengapa mereka belajar dan dapat
menghargai bahwa pembelajaran mereka punya relevansi dan nilai bagi diri mereka
secara pribadi.Orang belajar untuk mendapatkan hasil bagi diri sendiri.Jika mereka
tidak melihat ada hasilnya, mengapa harus belajar.Oleh karena itu, penting
sekali untuk sejak awal menegaskan manfaat belajar sesuatu agar agar orang
merasa terkait dengan topik pelajaran itu secara positif. Dalam banyak kasus,
persiapan pembelajaran dapat dimulai sebelum program belajar. Jika dapat
diusahakan, peserta belajar diberi sarana persiapan sebelum belajar yang berisi
aneka pilihan peralatan untuk membantu mereka agar siap untuk belajar. Sarana
itu dapat membantu menyingkirkan rasa takut, menentukan tujuan, menjelaskan
manfaat, meningkatkan rasa ingin tahu dan minat, serta menciptakan perasaan
positif mengenai pengalam belajar yang akan datang.
Untuk
membantu mempersiapkan orang mendapatkan pengalaman belajar yang optimal,
diperlukan lingkungan kerja sama sejak awal. Kerja sama membantu peserta
belajar mengurangi stress dan lebih banyak memanfaatkan energinya untuk
belajar. Kerja sama antarpeserta belajar menciptakan sinergi manusiawi yang
memungkinkan berbagai wawasan, gagasan, dan informasi mengalir bebas.
Hubungan
atau interaksi selama pembelajaran dapat dikatakan sebagai inti kecerdasan.
Semakin sering orang saling menghubungkan pengetahuan dan wawasan mereka,
semakin cerdaslah ia. Interaksi sangat penting dalam membangun komunitas
belajar.Hal ini dapat dimulai dengan program tugas kelompok yang dikaitkan
dengan pengenalan, tujuan, manfaat bagi peserta belajar atau penilaian
pengetahuan.Selain itu, aktivitas belajar membutuhkan peran serta semua
pihak.Bagaimanapun, belajar bukan hanya menyerap informasi secara pasif,
melainkan aktif menciptakan pengetahuan dan keterampilan.Upaya belajar benar-
benar bergantung pada peserta belajar dan bukan merupakan tanggung jawab
perancang atau fasilisatornya.Salah satu tujuan penyiapan peserta belajar
adalah mengajaknya memasuki kembali dunia kanak- kanak mereka, sehingga
kemampuan bawaan mereka untuk belajar dapat berkembang sendiri.
Dunia
kanak- kanak ditandai dengan keterbukaan, kebebasan, kegembiraan, dan rasa
ingin tahu yang sangat besar. Inilah yang diasumsikan akan membantu dalam
menumbuhkan percepatan berpikir dan belajar Accelerated
Learning (Rose & Nicholl, 1997 :181-183) dalam buku Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan
Pembelajaran (2013:136). Merangsang rasa ingin tahu peserta
belajar sangat membantu upaya mendorong peserta belajar agar terbuka dan siap
belajar. Pembelajaran akan mandeg jika tidak ada sesuatu yang bisa menimbulkan
rasa ingin tahu. Jika rasa ingin tahu berkembang, maka ini akan membuat
individu kembali hidup dan membuat mereka siap melebihi diri mereka sebelumnya
dan inilah inti pembelajaran yang baik. Selanjutnya mereka dapat mencari jalan
baru, membuat temuan baru, mempelajari keterampilan baru, dan kembali menjadi
manusia yang tumbuh dan berkembang normal.
- Penyampaian
(Presentation)
Tahap
penyampaian dalam siklus pembelajaran dimaksudkan untuk mempertemukan peserta
belajar dengan materi belajar yang mengawali proses belajar secara positif dan
menarik. Presentasi berarti pertemuan, dimana fasilitator dapat memimpin,
tetapi peserta belajar yang harus menjalani pertemuan itu.Pembelajaran berasal
dari keterlibatan aktif dan penuh seorang peserta belajar dengan pelajaran, dan
bukan dari mendengarkan presentasi guru atau dosen saja. Belajar adalah
menciptakan pengetahuan, bukan menelan informasi, maka presentasi dilakukan
semata-mata untuk mengawali proses belajar dan bukan untuk dijadikan fokus
utama.
Tahap
penyampaian dalam belajar bukan hanya sesuatu yang dilakukan fasilitator,
melainkan sesuatu yang secara aktif melibatkan peserta belajar dalam
menciptakan pengetahuan disetiap langkahnya. Sedangkan tujuan tahap penyampain
adalah membantu peserta belajar menemukan materi belajar yang baru dengan cara
menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan pancaindradan cocok untuk semua gaya
belajar. Hal ini dapat dilakukan melalui uji coba kolaboratif dan berbagai
pengetahuan, pengamatan, fenomena dunia nyata, pelibatan seluruh otak dan tubuh
peserta belajar. Selain itu dapat dilakukan dengan presentasi interaktif,
melalui aneka macam cara yang disesuaikan dengan seluruh gaya belajar termasuk
melalui proyek belajar berdasarkan kemitraan dan berdasarkan tim, pelatihan
penemuan, atau dengan memberi pengalaman belajar didunia nyata yang kontekstual
serta melalui pelatihan pemecahan masalah. Dan saat ini telah banyak
berkembang, seperti munculnya quantum
learning dan quantum teaching, (Bobi
DeForter, 2000), integrated learning,
collaborative learning (Campbell, 1983), accelerated learning (Rose & J. Nicholl, 1997), dan sejenisnya.
Persentasi fasilitator berhasil jika dapat menimbulkan minat, menggugah rasa
ingin tahu, dan memicu pembelajaran.Dalam beberapa kasus, peserta belajar
menemukan informasi atau keterampilan baru sebelum mengikuti presentasi resmi
dari seorang fasilitator.
Tahap
ini dalam siklus pembelajaran berpengaruh terhadap 70% atau lebih pengalaman
belajar keseluruhan.Dalam tahap inilah pembelajaran yang sebenarnya
berlangsung. Bagaimanapun, apa yang difikirkan dan dikatakan serta dilakukan
pembelajaran yang menciptakan pembelajaran dan bukan apa yang difikirkan,
dikatakan, dan dilakukan oleh instruktur atau pendidik. Peranan instruktur atau
pendidik hanyalah memprakarsai proses belajar dan menciptakan suasana yang
mendukung kelancaran pelatihan. Dengan kata lain, tugas instruktur atau
pendidik adalah menyusun konteks tempat peserta belajar dapat menciptakan isi
yang bermakna mengenai materi belajar yang sedang dibahas.
Peranan
guru adalah mengajak peserta belajar yang baru dengan cara yang dapat membantu
mereka memadukannya ke dalam struktur pengetahuan makna dan keterampilan
internal yang tertanam didalam dirinya. Membangun struktur makna yang baru dari
pengalaman belajar sebelumnya.Yang terbaik adalah jika hal ini melibatkan
seluruh aspek sistem tubuh atau pikiran.
Tujuan
tahap pelatihan adalah membantu peserta belajar mengintegrasikan dan menyerap
pengetahuan dan keterampilan baru dengan berbagai cara. Seperti aktivitas
pemprosesan, permainan dalam belajar, aktivitas pemecahan masalah, refleksi dan
artikulasi individu, dialog berpasangan atau kelompok, pembelajaran, dan
tinjuan kolaboratif termasuk aktivitas praktis dalam membangun keterampilan
lainya. Dalam hal ini Rose dan J. Nicholl (1997), telah banyak nmenyentuhnya
dalam upaya memberikan perlakuan (treatment)
tertentu untuk mempercepat belajar seseorang.
- Penampilan
Hasil (Performance)
Belajar adalah
proses mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman,
pemahaman menjadi kearifan, dan kearifan, dan kearifan menjadi tindakan. Nilai
setiap program belajar terungkap hanya dalam tahap ini.Namun banyak ynag
mengabaikan tahp ini. Padahal saat ini sangat penting disadari, bahwa tahap ini
merupakan satu kesatuan dengan keseluruhan proses belajar. Tujuan tahap
penampilan hasil ini adalah untuk memastikan bahwa pembelajaran tetap melekat
dan berhasil diterapkan.Setelah mengalami tiga tahap pertama dalam siklus
pembelajaran, kita perlu memastikan bahwa orang melaksanakan pengetahuan dan
keterampilan baru mereka pada pekerjaan mereka, nilai-nilainya nyata bagi diri
mereka sendiri, organisasi, dan klien organisasi. Tujuan penampilan hasil
adalah membantu peserta belajar menerapkan dan memperluas pengetahuan atau
keterampilan baru mereka pada pekerjaan sehingga hasil belajar akan melekat dan
penampilan hasil akan terus meningkat, seperti: penerapan didunia maya dalam
tempo segera, penciptaan dan pelaksanaan rencana aksi, dan aktivitas penguatan
penerapan. Pelatihan terus menerus, usaha balik dan evaluasi kerja aktivitas
dukungan kawan, perubahan organisasi lingkungan yang mendukung.Dengan demikian,
sejalan dengan konsep pembelajaran yang berkembang, maka hakikat inovasi
pembelajaran dapat ditelusuri dari keempat unsur tersebut.Artinya, jika keempat
unsur tersebut ada, maka pembelajaran dapat dikatakan berlangsung.
Persoalannya,
dalam dunia pendidikan di persekolahan bnayak yang menyalahi proses ini.
Padahal jika salah satu dari empat tahap tersebuat tidak ada, maka belajar pun
cenderung merosot atau terhenti sama sekali. Pembelajaran akan terganggu jika
peserta belajar terbuka dan tidak siap untuk belajar, tidak menyadari manfaat
belajar untuk diri sendiri, tidak memiliki minat, atau terhambat oleh rintangan
ini, banyak orang yang menyimpan perasaan negatif mengenai belajar tanpa
menyadarinya. Berdasarkan pengalaman masa lalu, mereka mungkin mengaitkan
situasai belajar formal dengan pengurungan, kebosanan, hal- hal yang tidak
relavan, rasa takut dipermalukan, dan stress. Jika rintangan- rintangan ini
tidak diatasi, maka belajar cepat dan efektif akan terhenti sebelum dimulai.
Belajar juga
terganggu jika orang tidak memperboleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam
cara yang bermakna bagi mereka dan yang melibatkan diri mereka sepenuhnya. Jika
mereka diperlakukan sebagai konsumen pasif dan bukan kreator aktif dalam proses
belajar, kegiatan belajar mereka akan berjalan pincang atau malah terhenti. Hal
yang sama terjadi jika gaya belajar pribadi seseorang tidak diperhatikan dalam
tahap penyampaian. Misalnya, orang harus bergerak dan aktif ketika sedang
belajar tidak akan banyak belajar dari kuliah panjang, kecuali jika dia disuruh
melakukan sesuatu.
Pembelajaran
akan terganggu jika orang tidak diberi cukup waktu untuk menyerap pengetahuan
dan keterampilan baru ke dalam struktur diri mereka saat itu kedalam organisasi
internal mereka menyangkut makna, kepercayaan, dan keterampilan. Untuk itu
belajar yang sebenarnya adalah yang dikatakan dan dilakukan peserta
belajar.Dengan demikian, cukup beralasan jika mengajar ditegaskan bukanlah
memerintah, bukan pula tindakan konsumtif.Pengetahuan bukan sesuatu yang
diserap peserta belajar, tetapi pengetahuan adalah sesuatu yang diciptakan
peserta belajar. Maka untuk memperolehnya peserta belajar akan membutuhkan
waktu untuk berintegrasi dengan pengetahuan tersebut.
Sementara itu,
konsekuensi dari pemikiran diatas, maka pembelajaran juga akan terganggu jika
orang tidak mempunyai kesempatan untuk segera menerapkan apa yang telah mereka
pelajari. Jika tidak segera menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang baru
mereka pelajari tersebut ke dalam dunia nyata, maka sebagian besar pengetahuan
tersebut akan menguap. Dalam satu studi dilaporkan bahwa tanpa penerapan segera
dan upaya untuk memperkuatnya, hanya sekitar 5% dari pelajaran dikelas yang
tetap diingat. Akan tetapi, dengan penerapan segera dan bimbingan serta
dukungan yang tepat maka 90% pelajaran akan tetap melekat (Gerlach dan Ely,
1980).
- Hasil
Belajar dari Pembelajaran
Secara
keseluruhan pemahaman terhadap konsep dasar pembelajaran tidak akan sempurna
jika berhenti pada definisi atau proses. Maka penulis merasa perlu untuk
menguraikan apa yang dihasilkan dari suatu proses pembelajaran. Berikut uraian
dari kaitan antara hasil pembelajaran yang sangat diharapkan sekali oleh semua
masyarakat belajar khususnya peserta didik.
- Hasil
Belajar
Sebagaimana
dikemukakan oleh UNESCO ada empat pilar hasil belajar yang diharapkan dapat
dicapai oleh pendidikan, yaitu: learning
to know, learning to be, learning to life together, dan learning to do. Bloom (1956) menyebutkan
dengan tiga ranah hasil belajar, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor.
Untuk aspek kognitif, Bloom menyebutkan enam tingkatan, yaitu 1) Pengetahuan,
2) Pemahaman, 3) Pengertian, 4) Aplikasi, 5) Analisis, 6) Sintesis dan 7)
Evaluasi. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya
proses belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku secara keseluruhan baik
yang menyangkut segi kognitif, efektif maupun psikomotor. Proses perubahan
dapat terjadi dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks, yang
bersifat pemecahan masalah, dan pentingnya peranan
kepribadian dalam proses serta hasil belajar.
Adapun Bloom yang banyak mendapat
pengaruh dari Carrol dalam “Model of
school learning”-nya berusaha untuk menyatakan sejumlah kecil variable yang
besar pengaruhnya terhadap hasil belajar Thesis
Central Model.Bloom menyatakan bahwa variasi dalam dalam Cognitive Entry Behaviours, Afektif Entry
Characteristia, dan kualitas pengajaran menentukan hasil belajar, Bloom,
yakni bahwa variable kualitas pengajaran yang tercermin dalam penyajian bahan
petunjuk latihan (tes formatif), proses balikan, dan perbaikan penguatan
partisipasi siswa harus sesuai dengan kebutuhan siswa (Bloom dalam Max Darsono,
1989:88) dalam buku
Tim Pengambangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran (2013:140).
Sementara itu, dalam Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), hasil belajar dirumuskan dalam bentuk
kompetensi, yaitu: kompetensi akademik, kompetensi kepribadian, kompetensi
social, dan kompetensi vokasional. Keempat kompetensi tersebut menjadi pribadi
yang utuh dan bertanggung jawab.
Secara umum, hasil brlajar siswa
dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu faktor-faktor yang ada dalam diri siswa
dan faktor eksternal, yaitu faktor-faktor yang berada diluar diri siswa. Yang
tergolong faktor internal ialah:
- Faktor fisiologis atau jasmani
individu baik bersifat bawaan maupun yang diperoleh dengan melihat, mendengar,
struktur tubuh, cacat tubuh, dan sebagainya.
- Faktor psikologis baik yang bersifat
bawaan maupun keturunan, yang meliputi:
- Faktor intelektual terdiri atas:
- Faktor potensial, yaitu intelegensi
dan bakat
- Faktor actual, yaitu kecakapan nyata
dan prestasi
- Faktor
non-intelektual yaitu komponen-komponen kepribadian tertentu seperti sikap,
minat, kebiasaan, motivasi, kebutuhan, konsep diri, penyesuaian diri,
emosional, dan sebagainya.
- Faktor
kematangan baik fisik maupun psikis.
Yang
tergolong faktor eksternal ialah:
- Faktor
social yang terdiri atas:
- Faktor
lingkungan keluarga
- Faktor
lingkungan sekolah
- Faktor
lingkungan masyarakat
- Faktor
kelompok
- Faktor
budaya seperti: adat istiadat, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesenian dan
sebagainya.
- Faktor
lingkungan fisik seperti: fasilitas rumah, fasilitas belajar, iklim, dan
sebagainya.
- Faktor
spiritual atau lingkungan masyarakat
Faktor-faktor
tersebut saling berinteraksi secara langsung atau tidak langsung dalam
memengaruhi hasil belajar yang dicapai seseorang.Karena adanya faktor-faktor
tertentu yang memengaruhi prestasi belajar yaitu motivasi berprestasi, inteligesi,
dan sebagainya.
- Motivasi
Menuju Hasil Proses Pembelajaran
Pengaruh
motivasi disini adalah motivasi baik intern maupun ekstern terhadap hasil
belajar yang dimaksud.Menurut Hilgard dalam buku Tim Pengambangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran
(2013:141) motif merupakan tenaga pergerak yang memengaruhi kesiapan untuk
memulai melakukan rangkaian kegiatan dalam suatu perilaku.Motif
pada umumnya dipandang suatu diposisi pribadi, artinya bersifat potensial.Dalam
hal ini Wrightman (1975:281)
dalam buku Tim Pengambangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran (2013:141)
menjelaskan bahwa motif merupakan suatu sumber tenaga dalam kondisi tertentu
yang biasanya dimiliki oleh setiap individu secara langsung. Dan motif ini biasanya memberikan arah untuk memilih kesiapan
tindakan yang akan dilakukan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan arahan.
Menurut jenismya, motif dibedakan menjadi dua yaitu motif primer dan motif
sekunder, yang dikutip oleh Syamsudin (1990) dalam buku Tim Pengambangan MKDP
Kurikulum dan Pembelajaran (2013:142), membedakan motif sebagai berikut:
- Motif
primer (primary motives) atau motif
dasar (basic motive) menunjukkan
kepada motif yang tidak dipelajari (unlearned
motive) yang sering juga digunakan istilah dorongan (drive).
- Motif
sekunder (secondary motives) menunjukkan
kepada motif yang berkembang dalam diri individu karena pengalaman, dan
dipelajari (conditioning and
reinforcement). Kedalam golongan ini termasuk:
- Takut
yang dipelajari (learning fears)
- Motif-motif
social (ingin diterima, dihargai, conformitas, afiliasi, persetujuan, status,
merasa aman, dan sebagainya)
- Motif-motif
objetif dan interest (eksplorasi,
manupulasi, minat)
- Maksud
(purposes) dan aspirasi
- Motif
berprestasi (achievement motive)
Sesuai dengan masalah yang dikaji dalam studi ini, maka konsep dari motif ini keduanya dipakai baik motif primer maupun motif sekunder, kajiannya dalam hal besar dan kecil pengaruhnya terhadap hasil belajar bahasa Inggris.
BAB II
PEMBAHASAN
- Hakikat
Belajar dan Asas-asas Belajar
Belajar merupakan aktivitas yang disengaja dan dilakukan
oleh individu agar terjadi perubahan kemampuan diri , dengan belajar anak yang
tadinya tidak mampu melakukan sesuatu, menjadi mampu melakukan sesuatu, atau
anak yang tadinya tidak mampu melakukan sesuatu, menjadi mampu melakukan
sesuatu, atau anak yang tadinya tidak terampil menjadi terampil. Contoh lain,
sebut saja Maharani, yang tadinya tidak dapat berjalan menjadi dapat berjalan adalah
karena Maharani sudah belajar berjalan, begitu juga individu menjadi pintar
bila rajin belajar memahami ilmu tersebut. (Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan
Pembelajaran, 2013:124)
Menurut Gagne (1984), dalam buku Tim
Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, 2013:124), belajar adalah suatu
proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.
Dari pengertian tersebut terdapat tiga unsur pokok dalam belajar, yaitu : (1)
proses, (2) perubahan perilaku, dan (3) pengalaman.
- Proses
Belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berpikir
dan merasakan. Seorang dikatakan belajar apabila pikiran dan perasaannya aktif.
Aktivitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diamati yaitu orang
lain, akan tetapi dirasakan oleh yang bersangkutan sendiri. Gurutidak dapat
melihat aktivitas pikiran dan perasaan siswa. Guru melihat dari kegiatan siswa
sebagai akibat adanya aktivitas pikiran dan perasaan siswa, sebagai contoh:
siswa bertanya, menanggapi, menjawab pertanyaan guru, diskusi, memecahkan
permasalahan, melaporkan hasil kerja, membuat rangkuman, dan sebagainya. Itu
semua adalah gejala yang tampak dari aktivitas mental dan emosional. (Tim Pengembangan
MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, 2013:125)
Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan manifestasi dari adanya
aktivitas mental (berpikir dan merasakan).Bagaimana bila siswa hanya duduk saja
pada saat guru menjelaskan pelajaran?Apakah dapat dikategorikan sebagai
belajar?Jawabnya adalah, apabila siswa tersebut duduk sambil menyimak penjelasan
guru, maka dikategorikan sebagai belajar. Tetapi apabila siswa hanya duduk
sambil pikiran dan perasaannya
melayang-layang atau melamun diluar pelajaran yang dijelaskan guru, maka siswa
tersebut tidak sedang belajar, tetapi sedang melamun. Tetapi perlu dicatat,
bahwa belajar tidak hanya mendengarkan penjelasan guru saja (tidak harus ada
yang mengajar), karena belajar dapat dilakukan siswa dengan berbagai macam cara
dan kegiatan, asal terjadi interaksi antara individu dengan lingkungannya. Misalnya
dengan mengamati demonstrasi guru, mencoba sendiri, mendiskusikan dengan teman,
melakukan eksperimen, memecahkan persoalan, mengerjakan soal, membaca sendiri,
dan sebagainya. Belajar hendaknya melakukan aktivitas mental pada kadar yang
tinggi. Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang
dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat.
Menurut (Arief Sadiman, 1986:1) dalam buku Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan
Pembelajaran (2013:125).
Hasil belajar akan tampak pada perubahan perilaku individu
yang belajar. Seseorang yang belajar akan mengalami perubahan perilaku sebagai
akibat kegiatan belajarnya. Pengetahuan dan keterampilannya bertambah, dan
penguasaan nilai-nilai dan sikapnya bertambah pula.
Menurut para ahli psikologi tidak
semua perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Perubahan peilaku karena faktor
kematangan, karena lupa, karena minum-minuman
keras bukan termasuk sebagai hasil belajar, karena bukan perubahan dari hasil
pengalaman (berinteraksi dengan lingkungan), dan tidak terjadi proses mental
emosional dalam beraktivitas.
Perubahan perilaku sebagai hasil
belajar diklasifikasikan menjadi tiga domain yaitu: Kognitif, Afektif,
Psikomotorik. Domain kognitif meliputi perilaku daya cipta, yaitu berkaitan
dengan kemampuan intelektual manusia, anatar lain: kemampuan mengingat
(knowledge), memahami (comprehension), menerapkan (application), menganalisis
(analysis), mensintesis (synthesis), dan mengevaluasi (evalution). Domain
afektif berkaitan dengan perilaku daya rasa atau emosional manusia, yaitu
kemampuan menguasai nilai-nilai yang dapat membentuk sikap seseorang. Domain
psikomotorik berkaitan dengan perilaku dalam bentuk keterampilan-keterampilan
motorik ( gerakan fisik).
Pada pembelajaran perubahan perilaku
sebagai hasil belajar yang ingin dicapai ini dapat dirumuskan dalam bentuk
tujuan pembelajaran atau rumusan kompetensi yang ingin dicapai dengan segala
indikatornya. Contoh rumusan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang akan
dicapai dalam pembelajaran : “Siswa dapat mengubah pecahan biasa kedalam bentuk
pecahan decimal dan mengurutkannya” Kata dapat
mengubah merupakan perilaku hasil belajar yang akan dicapai dalam
pembelajaran. (Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, 2013:126)
Belajar adalah mengalami, dalam arti bahwa belajar terjadi
karena individu berintekrasi dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun
lingkungan sosial.Lingkungan fisik adalah lingkungan di sekitar individu baik
dalam bentuk alam sekitar (natural) maupun dalam bentuk hasil ciptaan manusia
(cultural).(Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, 2013:126)
Macam-macam lingkungan fisik yang bersifat natural antara
lain pantai, hutan, sungai, udara, air, dan sebagainya. Bersifat cultural
adalah buku, media pembelajaran, gedung sekolah, perabot sekolah, dan
sebagainya.Adapun lingkungan social siswa di antaranya guru, orang tua,
pustakawan, pemuka masyarakat, kepala sekolah, dan sebagainya.Lingkungan
pembelajaran yang baik ialah lingkungan yang merangsang dan menantang siswa
untuk belajar.Guru yang mengajar tanpa menggunakan alat peraga tentu kurang
merangsang atau menantang siswa untuk belajar.apalagi bagi siswa SD yang
pengembangangan intelektual masih membutuhkan alat peraga. Semua lingkungan
yang diperlukan siswa ini di desain secara integral agar menjadi bahan belajar
dan pembelajaran yang efektif.
Belajar dapat dilakukan melalui pengalaman langsung maupun
pengalaman tidak langsung.Siswa yang melakukan eksperimen adalah contoh belajar
dengan pengalaman langsung.Sedangkan siswa belajar dengan mendengarkan
penjelasan guru atau membaca buku adalah contoh belajar melalui pengalaman
tidak langsung.
Belajar pada hakikatnya adalah proses intekrasi terhadap
semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai
proses yang di arahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai
pengalaman. Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati dan memahami
sesuatu (Sudjana, 1989:28). Sejalan dengan konsep di atas. Cronbach
(Surya,1979:28) dalam buku Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran,
2013:127) menyatakan, “learning may be
defined as the process by which a relatively enduring change in behavior occurs
as a result of exprince or practice”. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa
indikator belajar di tentukan oleh perubahan dalam tingkah laku yang bersifat
permanen sebagai hasil dari pengalaman atau latihan.
Dari beberapa kutipan di atas dapat di simpulkan beberapa
hal yang menyangkut pengertian belajar sebagai berikut:
- Belajar merupakan sesuatu proses
yaitu kegiatan yang berkesinambungan yang dimulai sejak lahir dan terus
berlangsung seumur hidup.
- Dalam belajar terjadi adanya
perubahan tingkah laku yang bersifat relatif permanen.
- Hasil belajar di tunjukkan dengan
aktivitas-aktivitas tingkah laku secara keseluruhan.
- Adanya peranan kepribadian dalam
proses belajar antara lain aspek motivasi, emosional, sikap dan sebagainya.
Terjadinya proses belajar dapat di pandang dari sisi
kognitif, sebagaimana dikemukakan Bigge (1982) dalam buku Tim Pengembangan MKDP
Kurikulum dan Pembelajaran, 2013:127), yaitu berhubungan dengan adanya
perubahan-perubahan tentang kekuatan variabel-variabel hipotesis,
kekuatan-kekuatan, asosiasi, hubungan-hubungan dan kebiasaan, atau kecendrungan
perilaku. Dalam hubungan ini Crow dan Crow (Surya, 1979:32) dalam buku Tim
Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran (2013:127) menyatakan bahwa
“proses belajar terjadi apabila individu dihadapkan pada situasi dimana ia
tidak dapat menyesuaikan diri dengan cara biasa, atau apabila ia harus
mengatasi rintangan-rintangan yang menganggu kegiatan yang diinginkan. Proses
penyesuaian diri mengatasi rintangan terjadi secara tidak sadar, tanpa
pemikiran yang banyak terhadap apa yang dilakukan. Dalam hal ini pelajar
mencoba melakukan kebiasaan atau tingkah laku yang telah terbentuk hingga ia
mencapai respon yang memuaskan.
Belajar merupakan suatu proses interaksi antara berbagai
unsur yang berkaitan. Unsur utama dalam belajar adalah individu sebagai peserta
belajar, kebutuhan sebagai sumber pendorong, situasi belajar, yang memberikan
kemungkinan terjadinya kegiatan belajar.Dengan demikian, manifestasi belajar
atau perbuatan belajar dinyatakan dalam bentuk perubahan tingkah laku. Mengenai
jenis perubahan tingkah laku dalam proses belajar ini, Gagne dan Briggs
(1988:105) dalam buku Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran
(2013:128) menyatakan bahwa perbuatan hasil belajar menghasilkan perubahan
dalam bentuk tingkah laku dalam aspek: a. kemampuan membedakan, b. konsep
konkret, c. konsep terdefenisi, d. nilai, e. nilai atau aturan tingkat tinggi,
f. strategi kognitif, g. informasi verbal, h. sikap, dan i. keterampilan
motorik.
- Tujuan
Belajar
tujuan
adalah perangkat hasil yang hendak dicapai setelah siswa melakukan kegiatan
belajar. Tujuan yang disadari oleh siswa sendiri sangat bermakna dalam upaya
meggerakkan kegiatan belajar untuk mencapai hasil yang optimal.
Sehubungan
dengan deskripsi tugas yang menjelaskan apa yang merek harus lakukan, juga
perlu dipertunjukkan/diberitahukan tujuan yang hendak dicapai oleh siswa,
setelah pembelajaran tersebut dilaksanakan. Hal ini perlu agar para siswa mengetahui
tujuan dari pada kegiatan itu.Misalnya mengapa penting dan bagaimana tujuan itu
dapat membantu mereka. Para siswa akan melakukan kegiatan dan berperan serta
lebih baik. Untuk itu guru perlu membangun dalam diri siswa predisposisi yang
dapat menambahkan inklinasi belajar.
Asas
ini paling efektif apabila diterapkan pada permulaan urutan pembelajaran. Cara
pemberitshusnnys tujuan kepada siswa memang juga krusihe teacher must be
sincere and convicting in making introductory remarks about the purposes of the
activity (Kourilsky, 1987,h.15). jika mungkin, hubungkan kegiatan dengan
pribadi siswa, dan jelaskan bagaimana kegiatan itu berpengaruh positif terhadap
mereka perolehan bila mereka berpatisipasi dalam pembelajaran itu.
Upaya
yang mungkin dilakukan untuk mengarahkan perhatian siswa kepada tujuan
pelajaran, antara lain sebagai berikut:
- Bagi siswa yang berada pada tingkat
lanjutan dapat diberikan suatu tes nyata, lalu individu menerima umpan balikan,
serta bantuan mengerjakan tes, dan melaksanakan diskusi kelompok kecil. Dengan
cara ini diharapkan siswa lebih siap berpatisipasi secara aktif dalam pelajaran
tersebut.
- Bagi siswa tingkat SD, barangkali lebih
efektif jika menggunakan situasi kehidupan nyata berdasarkan pengalaman siswa
sendiri atau dari contoh media yang kemudian didiskusikan sehingga mereka lebih
terarah pada pelajaran karena merasa jelas nilai pelajaran itu bagi mereka.
- Mempertunjukkan nilai pelajaran itu bagi
pribadi dan intelektual siswa, misalnya meningkatkan keterampilan berpikir kritis,
memperbaiki cara berkomunikasi, sehingga mereka lihat pentingnya pelajaran itu
dan melakukan kegiatan sebagaimana mestinya.
Motivasi
sering tumpang tindih dengan asas-asas belajar lainnya, namun demikian kita
perlu mengenal konsep pokok (key concept) dari pada motivasi kelas ini sebagai
suatu asa belajar tersendiri.
Tafsiran
tentang motivasi menurut pandangan lama, sering dianggap sama artinya dengan
perhatian. Misalnya guru berupaya menarik perhatian siswa terhadap pokok yang
diajarkan dengan cara tertentu, sehingga siswa tertarik minatnya untuk
mempelajari bahan yang baru tersebut. Tumbuhnya perhatian dan minat siswa
belajar dianggap telah tumbuhnya motivasi belajar siswa bersangkutan.
Motivasi
dapat bersumber dari dalam diri siswa sendiri berdasarkan kebutuhan, dorongan
dan kesadaran pada tujuan belajar.Motivasi ini disebut motivasi
intrinsic.Motivasi belajar dapat juga tumbuh berkat rangsangan dan tekanan atau
desakan dari luar, misalnya dengan hadiah, ganjaran, hukuman dan pemberian
harapan lainnya, yang disebut motivasi ekstrinsik. Kedua jenis motivasi ini
berdayaguna dalam melakukan proses belajar, kendatipun motivasi yang bersumber
dari diri sendiri dinilai lebih baik.
Kendatipun
demikian, motivasi ekstrinsik perlu digerakkan dan digunakan untuk mendorong
kegiatan belajar siswa, dengan cara menciptakan kondisi-kindisi yang
relevan.
Kondisi- kondisi kelas berikut ini dapat
meningkatkan motivasi didalam kelas : suasana lingkungan kelas, keterlibatan
siswa secara langsung, mendorong keberhasilan, transfer dan retensi.
- Suasana
Lingkungan Kelas
Pada
umumnya, siswa memberikan respons dan berperilaku baik jika guru bersifat
menunjang dan membantu selama berlangsungnya pembelajaran.Motivasi siswa di
pengaruhi secara positif oleh guru yang bersemangat dan antusias terhadap
isi/materi yang diajarkannya.Guru juga perlu memberikan umpan balik yang
positif sepanjang berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.Untuk itu, guru
perlu menciptakan suasana lingkungan kelas yang menyenangkan (comportable) dan
menunjang (supportive), sehingga membangkitkan motivasi siswa untuk mencapai
hasil belajar yang positif.
- Keterlibatan
Langsung Siswa
Jika
mata ajaran dalam kelas dihubungkan dengan kehidupan pribadi siswa dan
minatnya, maka proses belajar biasanya lebih melibatkan dan memotivasi siswa.
Karena itu guru hendaknya memilih topic pelajaran yang populer bagi para siswa,
agar mereka secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar.Karena itu guru
perlu sewaktu- waktu mengubah pelajaran yang diberikannya untuk
mengakomodasikan minat dan daerah keterlibatan pribadi siswa.
Umumnya
siswa akan memberikan respons yang positif bila mereka mengalami keberhasilan.
Memang kadang- kadang ada siswa yang justru bekerja keras setelah mengalami
kegagalan, namun umumnya motivasi belajar lebih meningkat berkat tumbuhnya
keberhasilan.Karena itu, guru hendaknya berupaya sebanyak mungkin memberikan
kesempatan berhasil kepada siswa sepanjang urutan belajar.Untuk itu, guru
dituntut memberikan penguatan ekstra (extra
rainforcement) dan bimbingan, agar siswa mau belajar lebih keras dengan
penuh perhatian melaksanakan tugas- tugas belajarnya.
- Umpan balik hasil belajar
Asas
pengetahuan tentang hasil kadang-kadang disebut “umpan balik pembelajaran”,
yang menunjukkan pada sambutan yang cepat dan tepat terhadap siswa agar mereka
mengetahui bagaimana mereka sedang bekerja.Lebih cepat siswa mendapat informasi
balikan tentunya lebih baik, sehingga informasi salah segera diperbaiki melalui
kegiatan belajar berikutnya. Guru dapat memberikan umpan balik ini dengan
berbagai cara, seperti: mengajukan pertanyaan dan memberikan jawaban silih
berganti, antara guru dan para siswa, pertukaran dan mengoreksi
karangan-karangan didalam kelas, memeriksa karangan oleh seorang volunteer
kelas, atau mengecek atau mengomentari langsung ditempat (on the spot) oleh guru sambil berkeliling dalam kelas. Nada bahasa
atau ucapan guru mengkomunikasikan pengetahuan tentang hasil yang dicapai oleh
siswa juga sangat penting. Semakin keterbukaan terhadap pertanyaan-pertanyaan
dan suasan ajakan dan dukungan akan mendorong siswa untuk mencari sendiri umpan
balik. Bila prinsip ini dilaksanakan secara konsisten dan terus menerus maka
dapat memperbaiki presentasi belajar siswa serta sikap mereka.
Beberapa contoh pelaksanaan asas pengetahuan
tentang hasil didalam kelas, antara lain:
- Kelompok
baca, para siswa membaca sebuah cerita dalam hati. Kemudian siswa menceritakan
kembali bagian-bagian penting dari cerita itu secara berurutan, sedangkan
lainnya mendengarkan dan melakukan koreksi, ini dilakukan secara bergiliran.
- Guru
menjelaskan hasil-hasil tes bentuk essai kepada kelas, dengan
mengklasifikasikannya menjadi kelompok baik, sedang, dan kurang, kemudian
mendiskusikannya dengan para siswa pada hari berikutnya.
Hasil
belajar dalam kelas harus dapat dilaksanakan kedalam situasi-situasi diluar
sekolah. Dengan kata lain, murid dapat mentransferkan hasil belajar itu kedalam
situasi-situasi sesungguhnya didalam masyarakat.Tentang transfer hasil belajar,
kita setidak-tidaknya akan menemukan tiga teori, yaitu:
- Teori disiplin formal (The formal
discipline theory)
Teori ini menyatakan,
bahwa sikap, pertimbangan, ingatan, imajinasi, dan sebagainya dapat diperkuat
melalui latihan-latihan akademis. Mata pelajaran-mata pelajaran seperti
geometri, bahasa latin sangat penting dalam melatih daya pikir seseorang.
Demikian pula halnya dengan daya pikir kritis, ingatan, pengalaman, pengamatan,
dan sebagainya dapat dikembangkan melalui latihan-latihan akademis.
- Teori unsur-unsur yang identik (The
identical elements theory)
Transfer terjadi
apabila diantara dua situasi atau dua kegiatan terdapat unsur-unsur yang
bersamaan (identik). Latihan didalam satu situasi mempengaruhi perbuatan
tingkah lakun dalam situasi yang lainnya. Teori ini banyak digunakan dalam
kursus latihan jabatan, dimana kepada siswa diberikan respons-respons yang
diharapkan diterapkan dalam situasi
kehidupan yang sebenarnya. Para ahli psikologi, banyak menekankan kepada
persepsi para siswa terhadap unsur-unsur yang identik ini.
- Teori
generalisasi ( The generalization theory)
Teori ini merupakan
revisi terhadap teori unsur-unsur yang identic. Tetapi generalisasi menekankan
lepada kompleksitas dari apa yang dipelajari. Internalisasi daripada
pengertian-pengertian, keterampilan, sikap-sikap, dan apresiasi dapat
mempengaruhi kelakuan seseorang. Teori ini menekankan kepada pembentukan
pengertian (concept formation) yang dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman
lain. Transfer terjadi apabila siswa menguasai pengertian-pengertian umum untuk
kesimpulan-kesimpulan umum. (Kurikulum dan Pembelajaran 2014:89)
2. Hakikat Pembelajaran
Istilah
pembelajaran merupakan perkembangan dari istilah pengajaran, dan istilah
belajar-mengajar yang dapat kita perdebatkan atau kita abaikan saja yang
penting makna dari ketiganya.Pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan
oleh seseorang guru atau pendidik untuk membelajarkan siswa yang bealajar.Pada
pendidikan formal (sekolah), pembelajaran merupakan tugas yang dibebabankan
kepada guru, karena guru merupakan tenaga professional yang dipersiapkan untuk
itu.Pembelajaran di sekolah semakin berkembang, dari pengajaran yang bersifat
tradisional sampai pembelajaran dengan sistem modern.Kegiatan pembelajaran
bukan lagi sekedar kegiatan mengajar (pengajaran) yang mengabaikan kegiatan
belajar, yaitu sekedar menyiapkan pengajaran dan melaksanakan prosedur mengajar
dalam pembelajaran tatap muka.Akan tetapi, kegiatan pembelajaran lebih kompleks
lagi dan dilaksanakan dengan pola-pola pembelajaran yang bervariasi.(Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan
Pembelajaran, 2013:128)
Menurut Mudhofir (1987:30) dalam
buku Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan
Pembelajaran (2013:128) Pada garis besarnya ada empat pola
pembelajaran.Pertama, pola
pembelajaran guru dengan siswa tanpa menggunakan alat bantu/bahan pembelajaran
dalam bentuk alat peraga.Pola pembelajaran ini sangat tergantung pada kemampuan
guru dalam mengingat bahan pembelajaran dan menyampaikan bahan tersebut secara
lisan kepada siswa.Kedua, pola (guru
+ alat bantu) dengan siswa. Pada pola pembelajaran ini guru sudah dibantu oleh
berbagai bahan pembelajaran dalam menjelaskan dan meragakan suatu pesan yang
bersifat abstrak.Ketiga, pola (guru)
+ (media) dengan siswa.Pola pembelajaran ini sudah mempertimbangkan
keterbatasan guru, yang tidak mungkin menjadi satu-satunya sumber belajar. Guru
dapat memanfaatkan berbagai media pembelajaran sebagai sumber belajar yang
dapat menggantikan guru dalam pembelajaran. Jadi pola ini pola pembelajaran
bergantian antara guru dan media berinteraksi dengan siswa.Konsekuensi pola
pembelajaran ini adalah hrus disipkan bahan pembelajaran yang dapat digunakan
dalam pembelajaran.Dan keempat, pola
media dengan siswa atau pola pembelajaran jarak jauh menggunakan media atau
bahan pembelajaran yang disiapkan. Berdasarkan pola-poa pembelajaran tersebut
di atas, maka membelajarkan itu tidak hanya sekedar mengajar (seperti pol
satu), karena membelajarkan iu yang berhasil harus memberikan banyak perlakuan
kepada siswa. Peran guru dalam pembelajaran lebih dari sekedar sebgai pengajar
(informator) belaka, akan tetapi guru harus memiliki multi peran dalam
pembelajaran. Dan agar pola pembelajaran yang diterapkan juga dapat bervariasi,
maka bahan pembelajarannya harus dipersiapkan secara bervariasi juga.
Menurut Adams & Dickey (dalam
oemar hamalik,2005) dalam bukuTim
Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran (2013:129),
peran guru sesungguhnya sangat luas, meliputi:
- Guru
sebagai pengajar (teacher as instructor)
- Guru
sebagai pembimbing (teacher as counselor)
- Guru
sebagai ilmuwan (teacer as scientist)
- Guru
sebagai pribadi (teacher as person)
Bahkan
dalam arti luas, di mana sekolah berubah fungsi menjadi penghubung antara
ilmu/teknologi dengan masyarakat, dan sekolah lebih aktif ikut dalam
pembangunan, maka peran guru menjadi lebih luas. Dalam kaitannya dengan
aktivitas belajar sebagai proses mental dan emosional siswa dalam mencapai
kemajuan, maka guru hendaknya berperan dalam memfasilitasi agar terjadi proses
mental emosional siswa tersebut sehingga dapat dicapai kemajuan tersebut. Guru
harus berperan sebagai motor penggerak terjadinya aktivitas belajar dengan cara
memotivasi siswa (motivator), memfasilitasi belajar (fasilitator),
mengorganisasi kelas (organisator), mengembankan bahan pembelajaran (developer,
desainer), menilai program-proses-hasil pembelajara (evaluator), memonitor
aktivitas siswa (monitor), dan sebagainya.
Bila semua paradigma masyarakat Perguruan Tinggi telah
memahami dengan baiktentang proses pembelajaran siswa aktif, learniang how to learn, penyiapan sumber
daya telah diatur dengan baik, dan penyiapan konten yang sudah tersedia dengan
baik, dan RPP/SAP yang telah mengatur dengan baik mekanisme proses
pembelajaran, maka proses pembelajaran akan berjalan dengan lebih mudah. Proses
pembelajaran hanya menerapkan kemampuan dan menggunakan sarana serta mengikuti
mekanisme yang telah diatur dengan baik dalam RPP/SAP. Proses pembelajaran yang
telah direncanakan dengan baik akan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Selain menerapkan proses pembelajar telah ditata dengan baik, juga harus selalu
meminta feed back dan melakukan
kajian untuk terus membenahi proses pembelajaran. Proses pembelajaran dapat
melalui tatap muka di dalam ruang kelas dan dapat melalui media elektronik
sesuai dengan pengatur di dalam SAP. Proses pembelajaran melalui internet
mendorong mahasiswa lebih aktif dalam pembelajaran karena harus berkomunikasi
secara maya dengan para dosen, dan mahasiswa lain disamping mengembara di dalam
dunia pengetahuan lain.
Pembelajaran (instruction) merupakan akumulasi dari konsep mengajar (teaching) dan konsep belajar (learning).Penekanannya terletak pada
perpaduan antara keduanya, yakni kepada penumbuhan aktivitas subjek
didik.Konsep tersebut dapat dipandang sebagai suatu sistem, sehingga dalam sistem
belajar ini tersapat komponen – komponen siswa atau peserta didik, tujuan,
materi untuk mencapai tujuan, fasilitas dan prosedur serta alat atau media yang
harus dipersiapkan. Sebagaimana diungkapkan oleh Davis, (1974 : 30) dalam buku Tim
Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran (2013:133) bahwa learning system menyangkut
pengorganisasian darai perpaduan antara manusia, pengalaman belajar, fasilitas,
pemeliharaan atau pengontrolan, dan prosedur yang mengatur interaksi perilaku
pembelajaran untuk mencapai tujuan. Demikian juga halnya dengan teaching system, dimana komponen
perencanaan mengajar, bahan ajar, tujuan, materi, dan metode, serta penilaian
dan langkah mengajar akan berhubungan dengan aktivitas belajar untuk mencapai
tujuan. Kenyataan bahwa dalam proses pembelajaran terjadi pengorganisasian,
pengelolaan, dan transformasi informasi oleh dan dari gurukepada siswa. Ketiga
kategori kegiatan dalam proses pembelajaran ini berkaitan erat dengan aplikasi
dan konsep system informasi manajemen.
- Persiapan
(Preparation)
Tahap
persiapan berkaitan dengan mempersiapkan peserta belajar untuk belajar.Tanpa
itu, pembelajaran akan lambat dan bahkan dapat berhenti sama sekali. Namun
karena terlalu bersemangat untuk mendapat materi, tahap ini sering diabaikan,
sehingga mengganggu pembelajaran yang baik.Persiapan pembelajaran itu seperti
mempersiapkan tanah untuk ditanami benih.Jika dilakukan dengan benar, niscaya
menciptakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan yang sehat.Demikian juga dalam
pembelajaran jika persiapan matang sesuai dengan karakteristik kebutuhan,
materi, metode, pendekatan, lingkungan serta kemampuan guru, maka hasilnya
diasumsikan akan lebih optimal. Tahap ini penting mengingat bahwa untuk
mendekati situasi belajar, misalnya peserta belajar harus menghadapi segala
macam rintangan yang potensial dapat mengganggu.Seperti tidak merasakan adanya
manfaat, takut gagal, benci pada topik pelajaran, dipaksa hadir, merasa sudah
tahu, dan merasa bosan.Semua rintangan ini dan yang lainnya dapat menyebabkan
stress, beban otak dan kemerosotan dalam kemampuan belajar.
Berdasarkan
hal diatas, maka tujuan tahap pesiapan adalah untuk menimbulkan minat peserta
belajar, memberi mereka perasaan positif mengenai pengalaman belajar yang akan
datang dan menempatkannya dalam situasi optimal untuk belajar. Hal tersebut
dapat dilakukan dengan memberikan sugesti positif, memberikan pernyataan yang memberi
manfaat, memberikan tujuan yang jelas dan bermakna.Tahap ini juga bertujuan
membangkitkan rasa ingin tahu, menciptakan lingkungan fisik, emosional, social
yang positif.Menenangkan rasa takut, menyingkirkan hambatan belajar, banyak
bertanya dan mengemukakan berbagai masalah, merangsang rasa ingin tahu, dan
mengajak belajar penuh dari awal.Banyak orang yang mempunyai perasaaan negatif
tentang belajar.Kenangan tak sadar mereka mengaitkan belajar dengan rasa sakit,
terhina, terkurung, dan sebagainya. Jika mereka tidak menggantikan sugesti
negatif ini dengan yang positif, maka pembelajaran mereka akan terhalang. Hal
ini dikarenakan gambaran negatif semacam itu cenderung mewarnai pengalaman
dengan asumsi.
Asumsi
negatif cenderung menciptakan pengalaman negatif dan asumsi positif cenderung
menciptkan pengalaman positif.Sugesti tidak boleh berlebihan, menimbulkan kesan
bodoh, dangkal, tetapi harus realistik, jujur, dan tidak bertele – tele. Dalam
kejadian apa pun, jika sudah menetapkan hati untuk mencapai hasil positif,
kemungkinan besar hasil positif yang akan dicapai. Ketika asumsi negatif sudah
digantikan dengan yang positif, maka rasa gembira dan lega dapat mempercepat
pembelajaran mereka (Merton, 1986 : 235) dalam buku Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran
(2013:133).
Sugesti,
baik positif maupun negatif, akan tercipta oleh lingkungan belajar itu sendiri.
Pengaturan ruang kelas sering menimbulkan sugesti negatif. Jika lingkungan
fisik mengilhami perasaan negatif dan mengingatkan orang pada pengalaman yang
tidak manusiawi, maka lingkungan itu akan memberi pengaruh negatif pada
pembelajaran. Sehingga diperlukan alternatif lingkungan yang memberi kesan
gembira, positif dan membangkitkan semangat.Sebuah lingkungan yang menimbulkan
asosiasi positif dan berperasaan dalam setiap orang. Seperti dengan menata
tempat duduk secara dinamis, menghiasi ruang belajar, atau apa yang ada dalam
lingkungan belajar yang dapat menambah warna, keindahan, minat, serta
rangsangan belajar peserta didik. Termasuk dengan kehangatan musik, sebagaimana
banyak dilakukan dalam inovasi – inovasi pembelajaran modern saat ini.
Pembelajaran memerlukan gambaran yang jelas tentang tujuan suatu pelajaran dan
apa yang akan dapat mereka lakukan sebagai hasilnya. Hal ini dapat dijelasakan
dengan kata, gambar, contoh, demo atau apa saja yang dapat membuat tujuan itu
tampak nyata dan konkret bagi peserta belajar.
Ada
garis lurus antara tujuan dan manfaat, tetapi tujuan cenderung dikaitkan dengan
apa, sedangkan manfaat dikaitkan dengan “mengapa”. Peserta belajar dapat
belajar paling baik jika menreka tahu mengapa mereka belajar dan dapat
menghargai bahwa pembelajaran mereka punya relevansi dan nilai bagi diri mereka
secara pribadi.Orang belajar untuk mendapatkan hasil bagi diri sendiri.Jika mereka
tidak melihat ada hasilnya, mengapa harus belajar.Oleh karena itu, penting
sekali untuk sejak awal menegaskan manfaat belajar sesuatu agar agar orang
merasa terkait dengan topik pelajaran itu secara positif. Dalam banyak kasus,
persiapan pembelajaran dapat dimulai sebelum program belajar. Jika dapat
diusahakan, peserta belajar diberi sarana persiapan sebelum belajar yang berisi
aneka pilihan peralatan untuk membantu mereka agar siap untuk belajar. Sarana
itu dapat membantu menyingkirkan rasa takut, menentukan tujuan, menjelaskan
manfaat, meningkatkan rasa ingin tahu dan minat, serta menciptakan perasaan
positif mengenai pengalam belajar yang akan datang.
Untuk
membantu mempersiapkan orang mendapatkan pengalaman belajar yang optimal,
diperlukan lingkungan kerja sama sejak awal. Kerja sama membantu peserta
belajar mengurangi stress dan lebih banyak memanfaatkan energinya untuk
belajar. Kerja sama antarpeserta belajar menciptakan sinergi manusiawi yang
memungkinkan berbagai wawasan, gagasan, dan informasi mengalir bebas.
Hubungan
atau interaksi selama pembelajaran dapat dikatakan sebagai inti kecerdasan.
Semakin sering orang saling menghubungkan pengetahuan dan wawasan mereka,
semakin cerdaslah ia. Interaksi sangat penting dalam membangun komunitas
belajar.Hal ini dapat dimulai dengan program tugas kelompok yang dikaitkan
dengan pengenalan, tujuan, manfaat bagi peserta belajar atau penilaian
pengetahuan.Selain itu, aktivitas belajar membutuhkan peran serta semua
pihak.Bagaimanapun, belajar bukan hanya menyerap informasi secara pasif,
melainkan aktif menciptakan pengetahuan dan keterampilan.Upaya belajar benar-
benar bergantung pada peserta belajar dan bukan merupakan tanggung jawab
perancang atau fasilisatornya.Salah satu tujuan penyiapan peserta belajar
adalah mengajaknya memasuki kembali dunia kanak- kanak mereka, sehingga
kemampuan bawaan mereka untuk belajar dapat berkembang sendiri.
Dunia
kanak- kanak ditandai dengan keterbukaan, kebebasan, kegembiraan, dan rasa
ingin tahu yang sangat besar. Inilah yang diasumsikan akan membantu dalam
menumbuhkan percepatan berpikir dan belajar Accelerated
Learning (Rose & Nicholl, 1997 :181-183) dalam buku Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan
Pembelajaran (2013:136). Merangsang rasa ingin tahu peserta
belajar sangat membantu upaya mendorong peserta belajar agar terbuka dan siap
belajar. Pembelajaran akan mandeg jika tidak ada sesuatu yang bisa menimbulkan
rasa ingin tahu. Jika rasa ingin tahu berkembang, maka ini akan membuat
individu kembali hidup dan membuat mereka siap melebihi diri mereka sebelumnya
dan inilah inti pembelajaran yang baik. Selanjutnya mereka dapat mencari jalan
baru, membuat temuan baru, mempelajari keterampilan baru, dan kembali menjadi
manusia yang tumbuh dan berkembang normal.
- Penyampaian
(Presentation)
Tahap
penyampaian dalam siklus pembelajaran dimaksudkan untuk mempertemukan peserta
belajar dengan materi belajar yang mengawali proses belajar secara positif dan
menarik. Presentasi berarti pertemuan, dimana fasilitator dapat memimpin,
tetapi peserta belajar yang harus menjalani pertemuan itu.Pembelajaran berasal
dari keterlibatan aktif dan penuh seorang peserta belajar dengan pelajaran, dan
bukan dari mendengarkan presentasi guru atau dosen saja. Belajar adalah
menciptakan pengetahuan, bukan menelan informasi, maka presentasi dilakukan
semata-mata untuk mengawali proses belajar dan bukan untuk dijadikan fokus
utama.
Tahap
penyampaian dalam belajar bukan hanya sesuatu yang dilakukan fasilitator,
melainkan sesuatu yang secara aktif melibatkan peserta belajar dalam
menciptakan pengetahuan disetiap langkahnya. Sedangkan tujuan tahap penyampain
adalah membantu peserta belajar menemukan materi belajar yang baru dengan cara
menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan pancaindradan cocok untuk semua gaya
belajar. Hal ini dapat dilakukan melalui uji coba kolaboratif dan berbagai
pengetahuan, pengamatan, fenomena dunia nyata, pelibatan seluruh otak dan tubuh
peserta belajar. Selain itu dapat dilakukan dengan presentasi interaktif,
melalui aneka macam cara yang disesuaikan dengan seluruh gaya belajar termasuk
melalui proyek belajar berdasarkan kemitraan dan berdasarkan tim, pelatihan
penemuan, atau dengan memberi pengalaman belajar didunia nyata yang kontekstual
serta melalui pelatihan pemecahan masalah. Dan saat ini telah banyak
berkembang, seperti munculnya quantum
learning dan quantum teaching, (Bobi
DeForter, 2000), integrated learning,
collaborative learning (Campbell, 1983), accelerated learning (Rose & J. Nicholl, 1997), dan sejenisnya.
Persentasi fasilitator berhasil jika dapat menimbulkan minat, menggugah rasa
ingin tahu, dan memicu pembelajaran.Dalam beberapa kasus, peserta belajar
menemukan informasi atau keterampilan baru sebelum mengikuti presentasi resmi
dari seorang fasilitator.
Tahap
ini dalam siklus pembelajaran berpengaruh terhadap 70% atau lebih pengalaman
belajar keseluruhan.Dalam tahap inilah pembelajaran yang sebenarnya
berlangsung. Bagaimanapun, apa yang difikirkan dan dikatakan serta dilakukan
pembelajaran yang menciptakan pembelajaran dan bukan apa yang difikirkan,
dikatakan, dan dilakukan oleh instruktur atau pendidik. Peranan instruktur atau
pendidik hanyalah memprakarsai proses belajar dan menciptakan suasana yang
mendukung kelancaran pelatihan. Dengan kata lain, tugas instruktur atau
pendidik adalah menyusun konteks tempat peserta belajar dapat menciptakan isi
yang bermakna mengenai materi belajar yang sedang dibahas.
Peranan
guru adalah mengajak peserta belajar yang baru dengan cara yang dapat membantu
mereka memadukannya ke dalam struktur pengetahuan makna dan keterampilan
internal yang tertanam didalam dirinya. Membangun struktur makna yang baru dari
pengalaman belajar sebelumnya.Yang terbaik adalah jika hal ini melibatkan
seluruh aspek sistem tubuh atau pikiran.
Tujuan
tahap pelatihan adalah membantu peserta belajar mengintegrasikan dan menyerap
pengetahuan dan keterampilan baru dengan berbagai cara. Seperti aktivitas
pemprosesan, permainan dalam belajar, aktivitas pemecahan masalah, refleksi dan
artikulasi individu, dialog berpasangan atau kelompok, pembelajaran, dan
tinjuan kolaboratif termasuk aktivitas praktis dalam membangun keterampilan
lainya. Dalam hal ini Rose dan J. Nicholl (1997), telah banyak nmenyentuhnya
dalam upaya memberikan perlakuan (treatment)
tertentu untuk mempercepat belajar seseorang.
- Penampilan
Hasil (Performance)
Belajar adalah
proses mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman,
pemahaman menjadi kearifan, dan kearifan, dan kearifan menjadi tindakan. Nilai
setiap program belajar terungkap hanya dalam tahap ini.Namun banyak ynag
mengabaikan tahp ini. Padahal saat ini sangat penting disadari, bahwa tahap ini
merupakan satu kesatuan dengan keseluruhan proses belajar. Tujuan tahap
penampilan hasil ini adalah untuk memastikan bahwa pembelajaran tetap melekat
dan berhasil diterapkan.Setelah mengalami tiga tahap pertama dalam siklus
pembelajaran, kita perlu memastikan bahwa orang melaksanakan pengetahuan dan
keterampilan baru mereka pada pekerjaan mereka, nilai-nilainya nyata bagi diri
mereka sendiri, organisasi, dan klien organisasi. Tujuan penampilan hasil
adalah membantu peserta belajar menerapkan dan memperluas pengetahuan atau
keterampilan baru mereka pada pekerjaan sehingga hasil belajar akan melekat dan
penampilan hasil akan terus meningkat, seperti: penerapan didunia maya dalam
tempo segera, penciptaan dan pelaksanaan rencana aksi, dan aktivitas penguatan
penerapan. Pelatihan terus menerus, usaha balik dan evaluasi kerja aktivitas
dukungan kawan, perubahan organisasi lingkungan yang mendukung.Dengan demikian,
sejalan dengan konsep pembelajaran yang berkembang, maka hakikat inovasi
pembelajaran dapat ditelusuri dari keempat unsur tersebut.Artinya, jika keempat
unsur tersebut ada, maka pembelajaran dapat dikatakan berlangsung.
Persoalannya,
dalam dunia pendidikan di persekolahan bnayak yang menyalahi proses ini.
Padahal jika salah satu dari empat tahap tersebuat tidak ada, maka belajar pun
cenderung merosot atau terhenti sama sekali. Pembelajaran akan terganggu jika
peserta belajar terbuka dan tidak siap untuk belajar, tidak menyadari manfaat
belajar untuk diri sendiri, tidak memiliki minat, atau terhambat oleh rintangan
ini, banyak orang yang menyimpan perasaan negatif mengenai belajar tanpa
menyadarinya. Berdasarkan pengalaman masa lalu, mereka mungkin mengaitkan
situasai belajar formal dengan pengurungan, kebosanan, hal- hal yang tidak
relavan, rasa takut dipermalukan, dan stress. Jika rintangan- rintangan ini
tidak diatasi, maka belajar cepat dan efektif akan terhenti sebelum dimulai.
Belajar juga
terganggu jika orang tidak memperboleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam
cara yang bermakna bagi mereka dan yang melibatkan diri mereka sepenuhnya. Jika
mereka diperlakukan sebagai konsumen pasif dan bukan kreator aktif dalam proses
belajar, kegiatan belajar mereka akan berjalan pincang atau malah terhenti. Hal
yang sama terjadi jika gaya belajar pribadi seseorang tidak diperhatikan dalam
tahap penyampaian. Misalnya, orang harus bergerak dan aktif ketika sedang
belajar tidak akan banyak belajar dari kuliah panjang, kecuali jika dia disuruh
melakukan sesuatu.
Pembelajaran
akan terganggu jika orang tidak diberi cukup waktu untuk menyerap pengetahuan
dan keterampilan baru ke dalam struktur diri mereka saat itu kedalam organisasi
internal mereka menyangkut makna, kepercayaan, dan keterampilan. Untuk itu
belajar yang sebenarnya adalah yang dikatakan dan dilakukan peserta
belajar.Dengan demikian, cukup beralasan jika mengajar ditegaskan bukanlah
memerintah, bukan pula tindakan konsumtif.Pengetahuan bukan sesuatu yang
diserap peserta belajar, tetapi pengetahuan adalah sesuatu yang diciptakan
peserta belajar. Maka untuk memperolehnya peserta belajar akan membutuhkan
waktu untuk berintegrasi dengan pengetahuan tersebut.
Sementara itu,
konsekuensi dari pemikiran diatas, maka pembelajaran juga akan terganggu jika
orang tidak mempunyai kesempatan untuk segera menerapkan apa yang telah mereka
pelajari. Jika tidak segera menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang baru
mereka pelajari tersebut ke dalam dunia nyata, maka sebagian besar pengetahuan
tersebut akan menguap. Dalam satu studi dilaporkan bahwa tanpa penerapan segera
dan upaya untuk memperkuatnya, hanya sekitar 5% dari pelajaran dikelas yang
tetap diingat. Akan tetapi, dengan penerapan segera dan bimbingan serta
dukungan yang tepat maka 90% pelajaran akan tetap melekat (Gerlach dan Ely,
1980).
- Hasil
Belajar dari Pembelajaran
Secara
keseluruhan pemahaman terhadap konsep dasar pembelajaran tidak akan sempurna
jika berhenti pada definisi atau proses. Maka penulis merasa perlu untuk
menguraikan apa yang dihasilkan dari suatu proses pembelajaran. Berikut uraian
dari kaitan antara hasil pembelajaran yang sangat diharapkan sekali oleh semua
masyarakat belajar khususnya peserta didik.
- Hasil
Belajar
Sebagaimana
dikemukakan oleh UNESCO ada empat pilar hasil belajar yang diharapkan dapat
dicapai oleh pendidikan, yaitu: learning
to know, learning to be, learning to life together, dan learning to do. Bloom (1956) menyebutkan
dengan tiga ranah hasil belajar, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor.
Untuk aspek kognitif, Bloom menyebutkan enam tingkatan, yaitu 1) Pengetahuan,
2) Pemahaman, 3) Pengertian, 4) Aplikasi, 5) Analisis, 6) Sintesis dan 7)
Evaluasi. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya
proses belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku secara keseluruhan baik
yang menyangkut segi kognitif, efektif maupun psikomotor. Proses perubahan
dapat terjadi dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks, yang
bersifat pemecahan masalah, dan pentingnya peranan
kepribadian dalam proses serta hasil belajar.
Adapun Bloom yang banyak mendapat
pengaruh dari Carrol dalam “Model of
school learning”-nya berusaha untuk menyatakan sejumlah kecil variable yang
besar pengaruhnya terhadap hasil belajar Thesis
Central Model.Bloom menyatakan bahwa variasi dalam dalam Cognitive Entry Behaviours, Afektif Entry
Characteristia, dan kualitas pengajaran menentukan hasil belajar, Bloom,
yakni bahwa variable kualitas pengajaran yang tercermin dalam penyajian bahan
petunjuk latihan (tes formatif), proses balikan, dan perbaikan penguatan
partisipasi siswa harus sesuai dengan kebutuhan siswa (Bloom dalam Max Darsono,
1989:88) dalam buku
Tim Pengambangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran (2013:140).
Sementara itu, dalam Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), hasil belajar dirumuskan dalam bentuk
kompetensi, yaitu: kompetensi akademik, kompetensi kepribadian, kompetensi
social, dan kompetensi vokasional. Keempat kompetensi tersebut menjadi pribadi
yang utuh dan bertanggung jawab.
Secara umum, hasil brlajar siswa
dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu faktor-faktor yang ada dalam diri siswa
dan faktor eksternal, yaitu faktor-faktor yang berada diluar diri siswa. Yang
tergolong faktor internal ialah:
- Faktor fisiologis atau jasmani
individu baik bersifat bawaan maupun yang diperoleh dengan melihat, mendengar,
struktur tubuh, cacat tubuh, dan sebagainya.
- Faktor psikologis baik yang bersifat
bawaan maupun keturunan, yang meliputi:
- Faktor intelektual terdiri atas:
- Faktor potensial, yaitu intelegensi
dan bakat
- Faktor actual, yaitu kecakapan nyata
dan prestasi
- Faktor
non-intelektual yaitu komponen-komponen kepribadian tertentu seperti sikap,
minat, kebiasaan, motivasi, kebutuhan, konsep diri, penyesuaian diri,
emosional, dan sebagainya.
- Faktor
kematangan baik fisik maupun psikis.
Yang
tergolong faktor eksternal ialah:
- Faktor
social yang terdiri atas:
- Faktor
lingkungan keluarga
- Faktor
lingkungan sekolah
- Faktor
lingkungan masyarakat
- Faktor
kelompok
- Faktor
budaya seperti: adat istiadat, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesenian dan
sebagainya.
- Faktor
lingkungan fisik seperti: fasilitas rumah, fasilitas belajar, iklim, dan
sebagainya.
- Faktor
spiritual atau lingkungan masyarakat
Faktor-faktor
tersebut saling berinteraksi secara langsung atau tidak langsung dalam
memengaruhi hasil belajar yang dicapai seseorang.Karena adanya faktor-faktor
tertentu yang memengaruhi prestasi belajar yaitu motivasi berprestasi, inteligesi,
dan sebagainya.
- Motivasi
Menuju Hasil Proses Pembelajaran
Pengaruh
motivasi disini adalah motivasi baik intern maupun ekstern terhadap hasil
belajar yang dimaksud.Menurut Hilgard dalam buku Tim Pengambangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran
(2013:141) motif merupakan tenaga pergerak yang memengaruhi kesiapan untuk
memulai melakukan rangkaian kegiatan dalam suatu perilaku.Motif
pada umumnya dipandang suatu diposisi pribadi, artinya bersifat potensial.Dalam
hal ini Wrightman (1975:281)
dalam buku Tim Pengambangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran (2013:141)
menjelaskan bahwa motif merupakan suatu sumber tenaga dalam kondisi tertentu
yang biasanya dimiliki oleh setiap individu secara langsung. Dan motif ini biasanya memberikan arah untuk memilih kesiapan
tindakan yang akan dilakukan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan arahan.
Menurut jenismya, motif dibedakan menjadi dua yaitu motif primer dan motif
sekunder, yang dikutip oleh Syamsudin (1990) dalam buku Tim Pengambangan MKDP
Kurikulum dan Pembelajaran (2013:142), membedakan motif sebagai berikut:
- Motif
primer (primary motives) atau motif
dasar (basic motive) menunjukkan
kepada motif yang tidak dipelajari (unlearned
motive) yang sering juga digunakan istilah dorongan (drive).
- Motif
sekunder (secondary motives) menunjukkan
kepada motif yang berkembang dalam diri individu karena pengalaman, dan
dipelajari (conditioning and
reinforcement). Kedalam golongan ini termasuk:
- Takut
yang dipelajari (learning fears)
- Motif-motif
social (ingin diterima, dihargai, conformitas, afiliasi, persetujuan, status,
merasa aman, dan sebagainya)
- Motif-motif
objetif dan interest (eksplorasi,
manupulasi, minat)
- Maksud
(purposes) dan aspirasi
- Motif
berprestasi (achievement motive)
Sesuai
dengan masalah yang dikaji dalam studi ini, maka konsep dari motif ini keduanya
dipakai baik motif primer maupun motif sekunder, kajiannya dalam hal besar dan
kecil pengaruhnya terhadap hasil belajar bahasa Inggris.
Sesuai dengan masalah yang dikaji dalam studi ini, maka konsep dari motif ini keduanya dipakai baik motif primer maupun motif sekunder, kajiannya dalam hal besar dan kecil pengaruhnya terhadap hasil belajar bahasa Inggris.